Apa itu Kebangkitan Nasional ? apakah
kita perlu tau apa itu ?
sebagian orang mungkin tidak peduli
terhadap masalalu bangsa ini -,,-
kenapa mereka bisa seperti itu ?!
Yap, betul sebagian masyarakat kita kurang akan pengetahuan dan keminatan terhadap cerita derita masa lalu bangsa ini dan perjuangannya.
Yap, betul sebagian masyarakat kita kurang akan pengetahuan dan keminatan terhadap cerita derita masa lalu bangsa ini dan perjuangannya.
Dan dengan harap saya ingin
pembaca masih peduli terhadap masalalu bangsa kita karena dari
masalalu ,masa sekarang kita bisa seperti sekarang ini
oke artikel ini akan menjelaskan kenapa
kita harus peduli !!
silahkan dibaca dan di simak ;)
silahkan dibaca dan di simak ;)
Asal Usul Kebangkitan Nasional
Pada
tahun 1912 berdirilah Partai Politik pertama di Indonesia
(Hindia Belanda), Indische Partij.Pada tahun itu juga Haji
Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (di Solo),
KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (di Yogyakarta), Dwijo
Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi
Poetra di Magelang. Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia bukan
berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tapi sebenarnya diawali dengan berdirinya
Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini
awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu.
Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada
tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.
Suwardi
Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis “Als
ik eens Nederlander was“ (“Seandainya aku seorang Belanda”), pada
tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana
pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di
Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan
Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka,
tetapi karena “boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana
Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan
ke Hindia Belanda.
Saat
ini, tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei, dijadikan
sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi
Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga
diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di
beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya,
dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati
Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang
pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota
baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga
banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula
muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu
perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat
Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama,
nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam,
yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya
tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti
orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang
menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang
Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena
dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan
politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin
dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut.
Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan
negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada
pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya,
rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi
Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk
menulis sebuah artikel “Als ik Nederlander was” (Seandainya Saya
Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas
terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua
teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker
dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia
Belanda. Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam
pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan
Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi
menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme.
Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa “nasionalisme
Indonesia” tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan
demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi
maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan
beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme
Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa
lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme,
tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota.
Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa
dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme “Indonesia” ada
dan merupakan unsur yang paling penting.
Sign up here with your email


