Penjajahan di Indonesia dan Akibatnya
Sedikitnya
ada dua faktor yang mengakibatkan penduduk Nusantara ini dijajah oleh bangsa
Barat, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal adalah kondisi politik, ekonomi, social, dan budaya sehingga
bangsa lain dapat masuk dan menguasai serta memonopoli perdagangan sedangkan faktor
eksternal adalah kondisi yang terjadi di negara-negara penjajah khususnya
di Eropa sehingga mereka melakukan ekspedisi dan ekspansi ke seluruh dunia
hingga sampai di wilayah Indonesia. Sebenarnya ada sejumlah faktor yang
menyebabkan bangsa Barat atau Eropa datang ke wilayah nusantara atau Indonesia.
Pertama, berkembangnya kepercayaan yang dilahirkan
dari ajaran Copernicus bahwa dunia ini bulat. Dengan kondisi bumi yang bulat
ini memungkinkan bahwa orang yang melakukan pelayaran, maka pada akhirnya ia
akan kembali ketempat semula.
Kedua, adanya masa renaissance
di Eropa yang ditandai oleh munculnya kebebasan bagi setiap orang untuk
berkreasi bagaikan lahirnya kembali jiwa yang bebas dari segala macam kekangan
yang membelenggu kehidupan mereka.
Ketiga, munculnya Islam sebagai
kekuatan baru di Timur Tengah, Afrika Utara yang berhasil menguasai jalur
perdagangan atau pintu yang menghubungkan antara dunia Timur dan Barat.
Keempat, Penjelajahan mereka ke Timur
dilandasi oleh semangat Reconquesta, yakni perang salib dengan tujuan
untuk menaklukkan orang-orang yang dulu pernah mengalahkan mereka yaitu
orang-orang Islam.
Kelima, adanya Perjanjian
Tordessilas yang ditandatangani 7 Juni 1494. Perjanjian ini lahir
dilatarbelakangi oleh keputusan Paus Alexander VI di Roma yang memberikan
kesempatan kepada Spanyol dan Portugis untuk memperluas kekuasaan melalui
keputusan yang disebut Bull of Demarcation.
Bangsa
Asing menjajah Indonesia tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal
melainkan karena faktor internal sebagai berikut:
Pertama, terjadinya kontak hubungan
perdagangan antara penduduk pribumi dan orang asing.
Kedua, penduduk nusantara termasuk
Indonesia adalah penghasil rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh
orang-orang Barat.
Ketiga, kondisi penduduk nusantara
masih merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang sangat rentan dengan persaingan
dan diantara mereka terjadi ambisi untuk saling menaklukan.
Penjajahan
bangsa-bangsa asing terhadap penduduk yang ada di wilayah nusantara, khususnya
Indonesia, telah berpengaruh besar terhadap kehidupan bangsa Indonesia baik
dimasa kini dan mungkin dimasa yang akan datang dalam berbagai kehidupan.
Secara umum, akibat penjajahan itu berdampak pada aspek ekonomi, politik,
ideologi dan sosial budaya.
Dalam
bidang ekonomi, pejajahan telah mengakibatkan tatanan ekonomi yang telah
berjalan baik, khusunya sistem yang telah disepakati oleh pihak penguasa dan
rakyat menjadi hancur. Kondisi perekonomian penduduk nusantara sangat parah
pada masa penjajahan terutama sejak diberlakukannya Sistem Tanam Paksa oleh
Pemerintah Hindia Belanda.
Dalam
bidang politik dan ideologi, pemerintah Hindia Belanda menerapkan aturan yang
keras terhadap para aktivis atau kaum pejuang yang berjuang melalui partai
politik. Ada upaya-upaya pembatasan ruang gerak bagi kaum aktivis-pejuang agar
perjuangan kaum pribumi tidak berkembang, sehingga dapat membahayakan pemerintah
jajahan.
Dalam
bidang sosial budaya, akibat penjajahan ditandai oleh semakin melemahnya
kekuasaan feodal atau raja-raja dan bangsawan. Kelompok raja-raja dan bangsawan
telah kehilangan fungsinya sebagai pemimpin dan penggerak perlawanan.
Perjuangan dilanjutkan melalui jalur keagamaan karena melalui perjuangan yang
dilandasi oleh keimanan terhadap ajaran agama (Islam) inilah maka perjuangan
mereka tidak akan sia-sia.
Ditengah
perjuangan untuk mencapai kemerdekaan ini, pemerintahan Hindia Belanda membuat
aturan yang secara sosial budaya sangat merugikan bagi kaum pribumi. Pemerintah
Hindia Belanda membagi tiga golongan masyarakat yang berdampak pada pengakuan
hak dan kewajiban. Golongan pertama adalah Golongan Eropa termasuk Belanda;
golongan kedua adalah kelompok Timur Asing; dan golongan ketiga adalah kaum
pribumi.
·
Perjuangan
Bangsa Indonesia dan Semangat Kebangsaan Menuju Kemerdekaan
Perjuangan untuk melepaskan diri dari kungkungan penjajah telah dilakukan
diberbagai daerah di Nusantara jauh sebelum abat ke-20. Hanya perjuangan belum
bersifat Nasional atau kebangsaan untuk membentuk suatu negara-bangsa (Nation
State). Perjuangan dilakukan oleh sejumlah kerajaan untuk mengusir penjajah
dari daerah/kerajaan tertentu secara lokal sehingga sering disebut perjuangan
kedaerahan/lokal.
ü
Masa
Penjajahan Barat (abad XV-XIX)
Merupakan
awal kontak dengan bangsa-bangsa Barat. Kedatangan mereka ke daratan nusantara
karena kesuburan Indonesia dengan hasil bumi, mereka berlomba-lomba merebut
kemakmuran bumi Indonesia.
Masa
penjajahan Belanda menuju ke arah penguasaan terhadap seluruh kehidupan bangsa
maupun wilayah nusantara. Masa penjajahan Belanda, dijadikan tonggak sejarah
perjuangan bangsa dalam mencapai cita-cita.
Hampir
semua orang yang berada di wilayah nusantara ini pernah merasakan bagaimana
sakit dan penderitaan selama dalam alam penjajahan. Misalnya, pengalaman
penderitaan selama diterapkannya peraturan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) oleh
Van Den Bosch tahun 1828, Seorang Gubernur Jenderal kepercayaan Ratu
Wilhelm I dalam pemerintahan Hindia Belanda.
Di
Negeri Belanda sendiri terjadi proses pembangunan besar-besaran hasil keringat
rakyat Nusantara yang mengalami proses pembodohan dan kemiskinan. Muncul pula
suara-suara yang membela rakyat jajahan diparlemen Belanda terutama partai
Liberal yang memenangkan pemilu saat itu. Orang-orang yang menaruh simpatik
atas penderitaan rakyat di nusantara itu adalah :
Pertama,
Baron Van Houvell,
seorang pendeta yang bekerja bertahun-tahun di wilayah nusantara sehingga tahu
kondisi rakyat ditanah air saat itu.
Kedua,
Eduard Douwes Dekker,
terkenal dengan nama samaran Multatuli, bekas Asisten Residen Lebak yang
meminta berhenti karena tidak tahan melihat kesengsaraan rakyat Lebak
akibat penjajahan Belanda.
Ketiga,
Mr. Van Deventer,
yang gigih membela kepentingan rakyat Indonesia dan berpendapat bahwa Belanda
mempunyai Hutang Budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi ini harus dibayar
oleh Belanda dan Ia mengusulkan agar Belanda menerapkan Etisce Politic, ialah
politik balas budi yang terdiri atas tiga program : Edukasi, Transmigrasi
dan Irigasi.
Pemerintah
Belanda akhirnya mau menjalankan politik balas budi ini, terbukti dibangunnya
sekolahan-sekolahan, rumah sakit, irigasi namun ternyata bukan untuk kepentingan
rakyat Indonesia melainkan hanya untuk kepentingan Belanda sendiri.
Efek
samping dari upaya Belanda dalam menjalankan politik balas budi ini bagi bangsa
Indonesia todak dapat diingkari. Terbukti setelah adanya politik balas budi,
ada rakyat Indonesia yang mulai sadar atas nasibnya dimana banyak kepincangan
sosial, kebodohan dan kemiskinan yang merajalela. Mereka yang mengenyam
pendidikan dan sadar akan nasib bangsanya inilah yang selanjutnya menjadi
tokoh-tokoh pergerakan dan kebangkitan Nasional.
ü
Masa
Kebangkitan Nasional
Merupakan
awal tonggak kebangkitan bangsa yang telah sekian lamanya terbenam dalam
penjajahan. Perlawanan secara fisik yang tidak ada koordinasi, mendorong
pemimpin Indonesia untuk merubah perlawaan yaitu dengan menyadarkan bangsa
Indonesia akan pentingnya bernegara.
Sejak
inilah muncul kesadaran berbangsa dan bernegara bagi rakyat Nusantara yang
sama-sama ada dalam penjajahan. A.K. Pringgodigdo (1991) membagi masa
perjuangan kebangsaan di Indonesia atas lima dimensi, yakni : (1) Pergerakan
Politik; (2) Pergerakan Serekat Kerja; (3) Pergerakan Keagamaan; (4) Pergerakan
Wanita; (5) Pergerakan Pemuda. Lima dimensi pergerakan pada masa penjajahan
Belanda ini dibagi lagi menurut kurun waktu sebagai berikut :
Ø
1. Masa
1908-1920
Ø
2. Masa
1920-1930
Ø
3. Masa
1930-1942
Ada
tiga jenis pergerakan politik pada masa 1908-1920, ialah :
·
Organisasi-organisasi
Indonesia yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, perkumpulan-perkumpulan
berdasarkan kedaerahan.
·
Perkumpulan
campuran, yakni bangsa Indonesia dan bukan bangsa Indonesia, seperti Insuiinde,
National Indische Partij, De Indische Partij-Douwes Dekker, Indische Sociaal
democratische Verreenining-Sneevliet, Indische Sociaal Democratische Partij.
·
Perkumpulan
campuran yang bertujuan Indonesia tetap dalam ikatan dengan negeri Belanda.
Pergerakan
politik pada masa 1920-1930 untuk organisasi Indonesia meliputi Partai Komunis
Indonesia, Sarekat Islam, Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia, Studieclub-studieclub
, Partai Nasional Indonesia, perkumpulan yang berdasarkan kedaerahan, dan
golongan berdasarkan keagamaan. Sedangkan pergerakan politik pada masa
1930-1942 meliputi Pendidikan Nasional Indonesia, Partai Indonesia, Gerindo,
Partai Persatuan Indonesia, Budi Utomo, Partai Rakyat Indonesia, Persatuan
Bangsa Indonesia, Partai Indonesia Raya, PSII, Parii, Penyedar, PII dan PSII
ke-2, perkumpulan berdasarkan kedaerahan, golongan berdasarkan keagamaan, GAPI
dan Majelis Rakyat Indonesia.
Budi
Oetomo,
merupakan organisasi pertama di Indonesia yang berbentuk modern, yaitu
organisasi dengan pengurus yang tetap. Budi Oetomo di didirikan di Jakarta pada
tanggal 20 Mei 1908 yang dilatarbelakangi oleh propaganda dr. Wahidin
Sudirohusodo untuk memajukan bangsa Indonesia dibidang pengajaran yang pada
saat ini kondisinya sangat terbelakang bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa
lain.
Sarekat
Islam,
didirikan di Solo tahun 1911 oleh Haji Simanhudi. Lahirnya Sarekat Islam lebih
banyak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.
Perdagangan
bangsa Tionghoa yang telah banyak menghambat perdagangan Indonesia, seperti
monopoli bahan-bahan batik dan tingkah laku orang-orang sombongs esudah
terjadinya revolusi di Tiongkok.
2.
Semakin
meningkatnya penyebaran agama kristen di tanah air dan adanya ucapan penghinaan
parlemen Belanda tentang tipisnya kepercayaan beragama orang Indonesia.
3.
Cara adat
istiadat lama yang terus dipakai di daerah-daerah kerajaan yang makin lama
makin dirasakan sebagai penghinaan.
Sementara
itu National Indische Partij (NIP) dan ISDV yang berdasarkan sosialisme
kiri yang tidak banyak mendapatkan anggota mulai melihat keberhasilan Sarekat
Islam sebagai organisasi rakyat dan berusaha mendapatkan pengaruh dalam Sarekat
Islam (SI).
Selain
organisasi yang bersifat Nasional, pada dekade tersebut muncul pula
organisasi/perkumpulan yang berdasarkan kedaerahan, seperti Pasundan, Serikat
Sumatera, perkumpulan orang-orang Ambon dan perkumpulan orang-orang Minahasa.
Pada
periode tahun 1920-1930 ditandai oleh berdirinya berbagai organisasi yang
bersifat kedaerahan dan organisasi yang cukup besar pengaruhnya dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia, ialah Partai Nasional Indonesia
(PNI). PNI berasaskan menolong diri sendiri (selfhelp), non-kooperatifdan
marhaenisme yang bertujuan :
Bidang
Politik,
memajukan penghidupan yang merdeka, memperkuat rasa kebangsaan dan rasa
kesadaran atas persatuan bangsa Indonesia, khususnya dan memperkokoh
perhubungan bangsa-bangsa Asia.
Bidang
Ekonomi, memajukan
penghidupan yang merdeka, memajukan perdagangan kebangsaan, kerajinan,
bank-bank dan koperasi.
Bidang
Sosial,
memajukan pengajaran yang bersifat kebangsaan, memperbaiki kedudukan
wanita,memerangi pengangguran, usaha-usaha transmigrasi, menyokong
serikat-serikat sekerja, memajukan kesehatan rakyat dan membasmi pemadat dan
peminum.
Pada
tahun 1920-an ini, adalagi peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia menuju suatu negara kesatuan adalah munculnya
berbagai organisasi pemuda dari berbagai wilayah di nusantara yang menyatakan
keinginan untuk bersatu sebagai suatu bangsa. Gerakan pemuda ini diawali dengan
berdirinya Jong Java yang disebut juga Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan
Mulia).
Upaya
kelompok pemuda yang dirintis sejak lama itu mencetuskan cita-citanya dalam
suatu kongres pemuda II di Jakarta pada tanggal 26-28 oktober 1928.
Pendidikan
Nasional Indonesia (PNI Baru). Sejak tahun 1932 organisasi ini dipimpin oleh Moh. Hatta,
bertujuan melepaskan diri dari penjajahan untuk mencapai kemerdekaan dan
menjunjung tinggi sikap non-koperasi dengan pihak Pemerintah Belanda.
Gerakan
Rakyat Indonesia (Gerindro). Didirikan di Jakarta tahun 1937 oleh mantan anggota
Partindo, sehingga tujuannya sama dengan Partindo. Perbedaanya Gerindro
menjunjung asas kooperasi, ialah mau bekerja sama dengan pihak Hindia Belanda.
Partai
Persatuan Indonesia (Partindo).
Organisasi ini dipimpin oleh Mr. Sartono dan pada hakekatnyamerupakan
kelanjutan dari PNI lama sehingga tujuannya pun sama ialah Indonesia Merdeka.
Secara spesifik, tujuannya (1) perluasan hak-hak politik dan perteguhan
keinginan menuju suatu pemerintahan rakyat berdasarkan demokrasi; (2) perbaikan
hubungan komunikasi dalam masyarakat; dan (3) perbaikan ekonomi rakyat.
Organisasi
politik lainnya yang tumbuh sejak tahun 1930-an hingga menjelang kemerdekaan
yang mempunyai tujuan untuk mencapai kemerdekaan antara lain Partai Rakyat
Indonesia (PRI), Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), Partai Indonesia Raya
(Parindra), PSSI, Partai Islam Indonesia (Parii), Penyedar, dll.
Dari
serangkaian perjuangan bangsa melalui berbagai sarana organisasi kemasyarakatan
dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya bangsa Indonesia pada saat itu telah
mulai sadar akan nasibnya yang sedang dijajah sehingga kondisinya miskin, bodoh
dan tidak ada kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri. Karena itulah,
muncul berbagai gerakan yang mengarah pada upaya untuk mempersatukan diri
melawan penjajahan dengan berbagai taktik perjuangan yang dilandasi oleh
semangat persatuan dan nasionalisme yang kuat.
Sign up here with your email


